Menjilat Ludah Sendiri
Mei 27, 2008
BBM akhirnya tetap naik, meski presiden harus menjilat ludahnya sendiri. Kasihan negeri ini, punya pemimpin yang demikian tidak punya harga diri. Orang hanya dihargai melalui perkataan yang keluar dari mulutnya. Tetapi inilah yang terjadi dengan presiden kita, kata-katanya kepada rakyat tidak dipegang dengan keteguhan, kata-kata itu tidak ia dekap dengan segala daya upaya, dengan segala keberanian untuk menanggung resikonya. Kata-kata itu justru diingkarinya. Ketika kata-kata itu kembali diputar di media, barisan menteri terpercaya sibuk membelanya, dengan kata-kata janggal yang memalukan. Hanya sampai disinikah martabat pemimpin kita. Masalah BBM sesungguhnya adalah ujian sampai sejauh mana pemerintahan ini bekerja keras mengatasi persoalan rakyat. Menaikkan harga BBM tentu langkah yang paling mudah, yang bisa ditempuh oleh siapapun yang menjadi menteri atau menjadi presiden. Tapi ini langkah yang sama sekali tidak cerdas. Ini langkah yang ditempuh oleh para pemalas.
Manajer
Mei 1, 2008
Di tengah kawan
pengambil kebijakan
aku diam
ribuan pergolakan kukekang
agar angin ribut tidak datang
tetapi kubayangkan sebuah jurang
kembali ada di depan
aku sudah mengingatkan secara terang-terangan
tetapi tidak ada dari kawan jawaban
kafilah akan berlalu dan aku menjadi anjing … guk guk guk
Kelak hanya waktu yang akan menjadi jawab
tetapi aku tidak mengharapkan
meski logikaku mengatakan
kali ini kita tetap tidak akan kemana-mana
Karena terlalu besar taruhannya
ketika lembaga yang besar ini
diserahkan pada satu genggaman tangan
Kegalauan kegagalan
April 22, 2008
Sebuah perjuangan panjang ribuan anak bangsa
dipertaruhkan
dalam kebijakan
seorang pedagang yang menjadi penguasa
Kembali sejarah mencatat
kesalahan yang akan terus terulang
keberhasilan tidak ditentukan oleh usaha
demikian ajaran petinggi bangsa ini
kegagalan tidak ditentukan oleh kelemahan
Tidak akan pernah tahu
mengapa aku gagal
karena tidak pernah ada jawab
Kebijakan ini
tidak pernah dapat dipertanggung jawabkan
diatas kegalauan nasib ribuan anak-anak bangsa ini
sebuah kebodohan dan mungkin keserakan dipertontonkan
pada jaman
UAN 2008
April 19, 2008
Sebuah Janji
April 19, 2008
Ke depan nak akan lebih baik
hidup akan makin mudah
bapak akan kerja
dan kau akan sekolah lagi
sabarlah
sekarang memang susah
kini belum lagi giliran kita untuk hidup sejahtera
banyak pemimpin kita yang lebih butuh biaya
para menteri perlu tabungan milyaran
para anggota dewan pun ingin hal yang sama
meski kadang dengan cara nakal
sabarlah nak biarkan mereka puaskan dahaga
kita kan biasa sengsara
nasibmu biarlah mengalir
Suatu saat nanti
janji itu akan hadir
kelak
Hello world!
April 18, 2008
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!